Selasa, 17 Maret 2015

Program Pengabdian Masyarakat Sejajar dengan Pendidikan dan Penelitian

Image
Masih banyaknya permasalahan di masyarakat terutama masyarakat pedesaan menuntut kalangan akademisi termasuk civitas akademika UII untuk meningkatkan peran dalam bentuk pengabdian masyarakat. Baik Dosen maupun mahasiswa UII terus didorong untuk memanfaatkan program KKN secara maksimal sebagai sarana strategis UII dalam mewujudkan misi besar UII yaitu menjadi kampus yang rahmatan lil’alamin, salah satunya adalah dengan melakukan penelitian dalam program Hibah KKN PPM yang didanai oleh DIKTI.
Dijelaskan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII Prof. Ahmad Fauzy, M.Si.,Ph.D., Keikutsertaan dosen-dosen UII dalam Program Hibah KKN PPM DIKTI tersebut saat ini masih minim walupun setiap tahun menurunkan sekitar 5000 mahasiswa yang tersebar di 300 – 350 titik di desa-desa baik di DIY maupun Jawa Tengah. “Kita berharap dengan jumlah mahasiswa yang banyak, UII tidak kalah dengan kampus-kampus yang jumlah mahasiswanya lebih sedikit.” Papar Prof. Fauzy saat memberikan pengantar dalam Workshop Meraih Hibah KKN PPM DIKTI yang diselenggarakan DPPM UII di Gedung Prof. Dr. Abdul Kahar Mudzakkir, Selasa (17/3).
Prof. Fauzy menyampaikan bahwa saat ini DPPM UII terus berupaya meningkatkan kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat agar sejajar dengan kegiatan-kegiatan pendidikan dan penelitian. “Tim di DIKTI juga mendorong agar Pengabdian Masyarakat dapat disejajarkan dengan Pendidikan dan Penelitian. Oleh karena itu, dengan Workshop ini kita berharap program KKN UII ke depannya mudah-mudahan lebih bagus dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi UII dan masyarakat.” Ujar Prof, Fauzy.
Dr. Gatot Murdjito, sebagai pemateri tunggal dalam workshop tersebut menyampaikan bahwa konsep UII dengan memasukkan Dakwah Islamiyah untuk melengkapi Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga menjadi Catur Dharma adalah konsep yang baik apalagi jika dapat diimplementasikan dengan baik di masyarakat. “Saya sangat senang UII menjadikan Dakwah Islamiyah sebagai Catur Dharma, apalagi kalau bisa dilaksanakan dengan baik. Dalam pengabdian masyarakat, yang pertama harus dimiliki adalah dengan menyukai aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan pengabdian masyarakat itu sendiri. Dengan begitu akan banyak yang bisa kita lakukan di masyarakat.” Papar Dr. Gatot.
Dijelaskan Dr. Gatot, benteng terakhir bangsa Indonesia adalah kampus, jika kampus melaksanakan perannya dengan baik dan orang-orang akademisi dapat membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. “Benteng terakhir bangsa adalah Kampus, kalau kampusnya saja memble ya sudah. Makanya saya terus mendorong supaya pengabdian masyarakat sejajar dengan penelitian” Tegasnya.
Namun demikian, saat ini pengabdian masyarakat masih belum sepenuhnya mendapat perhatian yang sejajar dengan penelitian. Sebagai contoh dalam kurikulum pendidikan ada mata kuliah khusus tentang metodologi penelitian akan tetapi tidak ada yang membahas tentang metodologi pengabdian. Sehingga ia berharap perguruan tinggi dapat mulai memberikan perhatian yang besar pada pengabdian masyarakat salah satunya dengan mengadakan perkuliahan terkait metodologi pengabdian.
Yogyakarta sebagai kota pendidikan dengan 106 PTS dan 5 PTN di dalamnya diharapkan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia, jumlah perguruan tinggi yang banyak tersebut diharapkan dapat memberikan peran perbaikan di masyarakat. Ia juga berharap Yogyakarta dapat menjadi tempat memulai perbaikan negeri ini dengan mengaktifkan program-program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh kampus-kampus yang ada di Yogyakarta, salah satunya adalah dengan program KKN yang memang mengangkat tema sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat sehingga benar-benar dapat memberikan solusi bukan justru menambah permasalahan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar