Senin, 18 Mei 2015

KKN : Sarana Penting Wujudkan UII Sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin

W
Image
alaupun Program Kuliah Kerja Nyata atau yang dikenal dengan KKN masih menjadi proses latihan bagi mahasiswa dalam hidup bermasyarakat, namun Universitas Islam Islam Indonesia menganggap KKN merupakan program penting sehingga UII senantiasa serius dalam mempersiapkan dan memberi bekal kepada mahasiswa untuk memberikan kontribusi maksimal bagi masyarakat khususnya yang tinggal di pedesaan. Di antara hal yang penting untuk dipersiapkan oleh mahasiswa UII sebelum KKN adalah kemampuan menyampaikan risalah Islam kepada masyarakat sebagai upaya mewujudkan Visi Misi UII untuk menjadi Rahmatan lil’ alamin.
Dijelaskan Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., Program KKN pada dasarnya merupakan salah satu sarana strategis bagi mahasiswa dalam upaya berkontribusi menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat khususnya di desa-desa dan wilayah-wilayah terpencil. “Keterbatasan informasi dan sarana interaksi memungkinkan banyak masyarakat yang belum mengetahui dan merasakan secara langsung kerja nyata UII, oleh karena itu program KKN menjadi sangat penting dan harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar memberikan manfaat sebesar-besarnya baik bagi masyarakat.” Jelas Dr. Harsoyo saat membuka Program Pesantrenisasi Pra KKN Semester Antar Waktu Tahap II TA 2014/2015 di Gedung Fakultas Ekonomi UII, Sabtu (16/5).
Dr. Harsoyo menekankan agar aktifitas dan program yang dilaksanakan mahasiswa harus tetap dilakukan secara maksimal dan mengusung misi besar UII yaitu menjadi Rahmatan lil alamin. “Mahasiswa diharapkan benar-benar menerapkan keilmuan yang sudah didapatkan selama ini di bangku kuliah, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dimana mahasiswa ditempatkan.”Papar Dr. Harsoyo.
“Maka dari itu, UII memiliki tanggung jawab untuk benar-benar mempersiapkan mahasiswa agar serius menjalankan program yang mampu memberikan solusi terhadap masalah yang ada bukan justru menambah masalah bagi masyarakat.” Lanjut Dr. Harsoyo.
Sebagai mahasiswa perguruan tinggi Islam, selain memiliki kewajiban mengamalkan disiplin ilmu yang ditekuni, mahasiswa UII juga secara otomatis memiliki tanggung jawab untuk senantiasa mampu dan siap untuk menyampaikan risalah Islam kepada masyarakat di desa-desa yang dijadikan lokasi KKN.
KKN akan menjadi salah satu tolak ukur oleh masyarakat terkait keberhasilan UII dalam mencetak manusia-manusia yang tidak hanya handal secara intelektual namun juga mumpuni secara spiritual, kapan pun dan di mana pun mereka berada. Dr. Harsoyo juga mengingatkan para mahasiswa agar dalam menyampaikan risalah Islam, hendaknya dengan cara-cara yang menarik dan bijak sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 125 sehingga akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Program Pesantrenisasi Pra KKN sebagaimana dijelaskan Dr. Drs. H. Munthoha, S.H.,M.Ag.,yang merupakan Direktur Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII merupakan upaya UII dalam membekali mahasiswa dengan ilmu-ilmu agama agar disamping menerapkan teori-teori sesuai disiplin ilmu yang dipelajari di fakultas masing-masing, mahasiswa juga mempunyai bekal yang cukup untuk berdakwah kepada masyarakat di lokasi KKN.

Rabu, 18 Maret 2015

review canon 60d


Banyak orang mengira bahwa model kamera ini adalah salah satu kelanjutan dari model-model sebelumnya yang dirilis di pasaran, tetapi sebenarnya tidak. Dalam beberapa ulasan atau review lengkap kamera Canon 60D, anda akan mengetahui perbedaan antara model-model sebelumnya dengan kamera ini.

Rahasia untuk produk apapun adalah definisi yang akurat dari target pasar. Untuk Canon 60D, para pengamat percaya bahwa kamera ini dimaksudkan untuk semi-pro. Yang berarti adalah untuk mereka yang tidak lagi amatir dan mencari peralatan yang sedikit menantang untuk digunakan. Namun, mereka tidak profesional, dimana para pro menuntut lebih banyak fitur.



Ukuran
Salah satu perubahan yang jelas terlihat pada kamera Canon 60D dapat dilihat pada fisiknya. Dengan dimensi  lebar 5,7 inci, panjang 3,1 inci, dan  tinggi 4,2 inci,  jauh lebih lebih kompak dan portabel daripada kamera lain, bahkan dari produk Canon lainnya.
Jika ini tidak cukup, beratnya sedikit lebih ringan. Ini mungkin ada hubungannya dengan penghilangan konstruksi campuran logam. Dan telah digantikan oleh chassis logam tetapi dengan body plastik.



Mudah Digunakan
Hal lain yang ditawarkan oleh Canon 60D adalah sangat nyaman untuk digunakan. Salah satunya, banyak tombol yang telah memiliki fungsi khusus. Kita tidak tahu apakah ini baik, karena ada beberapa tombol yang perlu diingat. Namun, setelah anda terbiasa dengan kamera ini, Anda akan menemukan bahwa tombol khusus ini merupakan jalan pintas untuk menghemat banyak waktu. Dengan penggunaan controller empat arah, merupakan pengembangan dari joystick kecil yang ditemukan pada Canon 50D.
Peningkatan sampai 18 mega-pixel memungkinkan penangkapan gambar lebih bagus dan lebih tajam. Dan karena Canon 60D ini dikemas dengan filter kreatif dan efek khusus, Anda dapat menghemat waktu selama pengeditan. Perubahan tersebut juga dapat dilihat dalam Viewer Live. Cakupan viewfinder juga diperluas menjadi 96%.

Tips Foto disiang hari

1. Fill Flash

Sobat mungkin akan berpikir: Terasa aneh ketika menyalakan flash disiang hari, tetapi inilah salah satu waktu yang tepat untuk mempergunakan flash. Bayangan gelap yang ada di wajah subyek foto (biasanya ada di bagian bawah mata) ketika memotret disiang hari bisa dihilangkan dengan hanya menambahkan sedikit cahaya dari flash built ini kalian.
Kamera DSLR sekarang ini sudah banyak yang memilik fitur untuk mengontrol intensitas cahaya yang dikeluarkan oleh flash built-in, biasanya disebut dengan flash compensation. Sobat bisa menambah atau mengurangi setelah melakukan beberapa percobaaan jepretan sampai kalian mendapatkan hasil yang terasa natural.
Kabar baiknya dalam menggunakan flash atau fill flash adalah background sering kali berdampak background akan menjadi sedikit gelap. Hal ini bisa memberikan kesan Model sebagai Point of Interest menjadi semakin menonjol dibandingkan Background. Fill flash juga akan menciptakan kilau kecil dibagian mata subyek kalian.
Terkadang dengan menggunakan fill flash bisa memberikan kesempatan kita untuk memotret dengan posisi subyek/model membelakangi cahaya. Hal ini berarti wajah mereka tidak menghadap langsung cahaya matahari, tetapi subyek akan mendapatkan cahaya yang mengenai sekitaran rambut dan bahu, dan itu akan memberikan dampak yang bagus.

2. Memotret di teduhan/naungan

Cara mudah yang lain untuk menghilangkan bayangan yang tercipta di bagian wajah subyek adalah dengan memindahkan subyek (dan fotografer) ke bawah naungan bayangan besar dan memotret mereka di dalam naungan bayangan tersebut. Kuncinya adalah mencari tempat yang tidak gelap tetapi tetap memiliki cahaya yang terfilter yang bisa masuk. Hindari cahaya "belang-belang" dibawah pohon atau jika tidak maka Sobat kemungkinan besar akan mendapati separuh wajah terkena cahaya langsung sedangkan bagian lain terkover naungan dengan baik.
Jika sobat ingin membuat foto portrait dengan framing ketat di bagian wajah mungkin bisa menyiasati dengan bantuan seseorang yang memegang payung atau obyek lain sebagai naungan dibagian wajah tentu jangan sampai rekan kita itu masuk kedalam frame foto kita.

3. Gunakan Reflektor

Tips kali nomor Tiga ini tidak berarti Sobat harus selalu menyiapkan reflektor di dekat kalian, walaupun ada fotografer yang selalu membawa reflektor portable kecil di dalam tas kamera mereka. Jika Sobat tidak ingin repot membawa reflektor, kalian masih bisa menggunakan prinsip dasar bagaimana memantulkan sedikit cahaya ke arah wajah subyek guna membantu menerangi bagian wajah yang terkena bayangan.
Prinsipnya adalah setiap permukaan yang bewarna putih (atau terang) bisa berperan sebagaireflektor cahaya, dan jika diposisikan pada sudut yang tepat maka kalian bisa memanfaatkannya untuk memberi subyek/model sedikit cahaya ekstra.
Sobat bisa memposisikan subyek kalian dekat dinding putih atau memposisikan benda dengan permukaan putih disekeliling subyek untuk memantulkan cahaya ke area wajah. Beberapa fotografer lebih memilih menggunakan aluminium foil atau bahan styrofoam lebar sebagai reflektor.

Tripod Kamera DSLR


Beberapa fotografer pemula mungkin akan mengajukan pertanyaan perihal kenapa seseorang perlu untuk menggunakan sebuah Tripod atau Monopod jika Dia berpegang pada aturan diatas dan selalu memotret dengan kecepatan ideal yang ada pada aturan tersebut. Jawaban dari pertanyaan ini, adalah bahwa dalam kebanyakan kasus aturan ini akan mengeliminasi guncangan kamera yang bisa terlihat secara efektif. Sesekali waktu cobalah melihat gambar lebih dekat, atau memperbesar hasil foto kalian, Kemungkinan Sobat masih menemukan efek dari goncangan kamera meskipun pada hasil jepretan yang menggunakan Shutter Speed cepat.
Mungkin sebagian dari kita akan merasa keberatan jika harus berkeliling membawa tripod, tetapi di lain sisi perangkat ini merupakan aksesoris yang harus di miliki jika ingin membawa dunia fotografi kalian ke tingkatan yang lebih tinggi. Tripod membantu kalian untuk mengeliminasi goncangan kamera, memudahkan penggunaan shutter speed rendah dimana kalian bisa mendapatkan rentang pemilihan Aperture yang lebih luas, dan ini juga berarti membuka peluang terhadap kreatifitas dalam memotret.
Kami terkadang juga bingung melihat kenyataan bahwa masih banyak yang tidak menggunakan Tripod, entah itu dikarenakan malu (menenteng perangkat kemanapun mereka pergi), malas, atau bisa saja pelupa, tetapi hal-hal tersebut merupakan alasan utama seorang fotografer enggan untuk menggunakan Tripod.

Tips Setting kamera Digital

Quality Control

Apakah Sobat pernah memperhatikan format file yang kalian gunakan dalam memotret? Apakah Sobat lebih memilih menggunakan format RAW daripada JPEG? Foto-foto yang diambil dengan menggunakan format RAW akan memiliki fleksibilitas lebih ketika melakukan paska produksi atau editing dengan perangkat lunak seperti Photoshop atau GIMP.
Gunakan ISO antara 100 sampai 400, dan cobalah untuk mendapatkan sensitifitas cahaya paling renda. Beberapa kamera digital akan menghasilkan Noise pada ISO tinggi. Noisebiasanya dalam foto terlihat seperti butiran pasir
Ketika membicarakan White Balance, Sobat bisa membiarkannya otomatis, tetapi jika Sobat telah percaya diri perihal penggunaanya sesuai dengan kondisi pencahayaan saat memotret maka silahkan kalian atur lebih detail, seperti ke Tungsten atau Cloudy

Key Control

Aperture dan Shutter Speed bisa dikatakan sangat krusial. Dampak kombinasi dari Dua pengaturan ini tidak hanya pada jumlah cahaya yang masuk ke dalam lensa, tetapi juga pada bagaimana foto kalian akan dihasilkan.

Aperture mengendalikan Depth of Field dengan menentukan area mana saja yang akan terlihat tajam, jika Sobat memilih Depth of Field sempit dengan Foreground tajam dan Background blur, maka Sobat harus menggunakan Aperture lebar (contoh: f/2.8), dan begitu juga sebaliknya.
Shutter Speed mengontrol apakah obyek gerak terekam 'freeze' atau blur (baca artikel:Bagaimana membuat foto Blur). Semakin lambat Shutter Speed, maka akan ada lebih banyak motion blur yang tercipta.

Pengaturan Mode Exposure yang Tepat

Kamera DSLR memberikan beberapa fitur mode exposure, dari full otomatis seperti yang ada di kamera saku, sampai ke full manual. Dua mode semi-otomatis yang paling populer dalam memberikan sisi kreatifitas adalah Aperture Priority dan Shutter Priority.
Aperture Priority memungkinkan kalian untuk memilih Aperture sesuai keinginan, dan kamera memilih Shutter Speed yang dibutuhkan secara otomatis. Pilih Shutter Priority jika kalian sudah mengetahui berapa kecepatan Shutter yang akan digunakan, dan kamera akan menangani pemilihan aperture untuk mendapatkan exposure yang pas. Sederhana bukan?

Gunakan Metering yang Tepat

Mode Metering akan tergantung pada kamera serta merk-nya, tetapi ada tiga macam metering yang umum terdapat pada sebuah kamera DSLR yaitu: Multi-zone, Centre-Weighted Average dan Spot. Mode Multi-Zone membaca cahaya dari keseluruhan area. Sangat cocok untuk kebutuhan sehari-hari dan akurat untuk kebanyakan situasi. Centre-Weighted Average membaca sebanyak sekitar 70% dari tengah frame, ideal untuk mengambil gambar Portrait. Metering Spot membaca hanya sebatas area kecil, oleh kerena itu metering ini sedikit sulit diaplikasikan oleh fotografer pemula.

Pengaturan AF dan Mode Drive

Kamera DSLR menawarkan beberapa mode fokus. Dua pengaturan fokus yang utama adalah Single-Servo untuk obyek diam, dan Continuous-Servo untuk obyek gerak. Kebanyakan kamera membolehkan penggunanya untuk menggunakan fokus secara manual.
Mode Drives memungkinkan kita untuk menentukan apakah kita akan mengambil foto dengan single frame setiap jepretan atau lebih dari satu jepretan selama kita menekan tombol Shutter.

Memanfaatkan Layar LCD.

Layar LCD bisa membuat kita memberikan salah penilain exposure jika kita tidak mengatur tingkat kecerahannya secara benar. Biasakan untuk mereview exposure sebuah foto menggunakan histogram atau tone chart. Sebuah grafik histogram yang cenderung memuncak di sisi kiri menandakan foto tersebut under-exposure, memuncak di sebelah kanan menandakan over-exposure.

Selasa, 17 Maret 2015

Lensa Fix 50mm

Sisi Positif :
  • Tajam: Fakta yang ada adalah produsen atau manufaktur lensa ini tidak butuh banyak material kaca untuk digunakan sebagai zooming, desain lensa ini fix, dan sangat sederhana.
  • Relatif murah: Harga dari lensa ini hanya berkisar Satu juta rupiah, dengan harga tersebut Sobat sudah bisa memiliki lensa dengan kualitas hasil yang menakjubkan.
  • Kecil dan ringan: Baik lensa prime/fix keluaran Canon atau Nikon memang berukuran kecil dan ringan hanya seukuran 1/2 dari lensa kit.

 

Sisi Negatif :

  • Tidak ada zoom: Di era fotografi digital saat ini kita memang sangat dimanjakan, pada era film dengan lensa prime/fix, zooming selalu dilakukan dengan menggunakan "kaki".

Panduan Membeli Lensa Kamera Dslr

Kecepatan Lensa

Kecepatan lensa bisa jadi merupakan pokok bahasan ketika Sobat mencari sebuah lensa baru. Kecepatan atau seberapa cepat sebuah lensa sebenarnya berhubungan erat dengan Aperture maksimal yang dimiliki oleh lensa tersebut. Aperture merupakan ukuran bukaan lensa ketika tombol shutter ditekan (atau seberapa banyak cahaya masuk ke dalam kamera). Aperture dilambangkan dengan F (f-stop).
Sobat bisa membaca artikel kami tentang aperture di: Mengenal Aperture dalam Fotografi. Semakin kecil bilangan maka semakin besar lubang, dan akan ada lebih banyak cahaya yang masuk dalam satu waktu. Hal ini berarti Shutter Speed menjadi lebih cepat, dengan alasan inilah mengapa muncul istilah 'cepat' atau 'lebih cepat'
Besarnya Aperture maksimal lensa bisa membantu Sobat dalam beberapa hal antara lain:
  • Lensa "cepat" dengan aperture maksimal f/1.4 memungkinkan kalian memotret ditempat yang relatif lebih gelap dibandingkan dengan lensa yang memiliki aperture maksimal f/4 atau f/5.6. Hal ini tidak membuat lensa yang lebih lambat menjadi jelek, tapi layak untuk diketahui.
  • Lensa yang "lebih cepat" memungkinkan kalian untuk mengambil obyek gerak dan memotretnya tanpa mendapatkan motion blur
  • Lensa "cepat" memungkinkan kalian untuk mendapatkan Depth of Field yang lebih tipis/sempit. Ini berarti ketika kalian memfokuskan pada subyek yang ada di foreground maka background akan menjadi blur atau tidak fokus. Memiliki lensa 'cepat' tentu saja berarti ada kemungkinan fokus menjadi sedikit lebih 'tricky', mengingat Depth of Field yang digunakan sangat tipis/sempit. Sebagai contoh ketika memotret portrait sebuah wajah dengan Aperture f/1.4 dan memfokuskannya pada mata, maka kemungkinan besar kalian akan mendapati hidung sedikit tidak terfokus.
  • Lensa 'cepat' biasanya cenderung lebih mahal dibandingkan dengan lensa lain yang lebih lambat.
  • Lensa yang lebih "cepat" akan membantu dalam hal flash photography dalam hal merekeam atau mengambil ambient light
Sebagai referensi, kecepatan lensa dengan aperture f/4 biasanya bagus untuk tujuan pemotretan general dengan kondisi pencahayaan yang bagus. f/5.6 membutuhkan pencahayaan yang bagus atau fitur image stabilization (IS/VR), jika Sobat memotret indoor tanpa flash, maka setidaknya gunakan lensa dengan f/2.8, dan jika Sobat memotret sport indoor maka setidaknya gunakan f/2.0 atau bahkan lebih 'cepat' dari itu.

Focal Length

Focal length merupakan panjang dari lensa yang sobat gunakan (satuan mm merupakan satuan pengukuran focal length dari sebuah lensa). Pengukuran ini adalah jarak antar optik ditengah-tengah lensa ke focal point pada sensor kamera. Apa yang harus Sobat tahu adalah bahwa focal length dari sebuah lensa menginformasikan pada kalian pada saat memotret berapa besar subyek tersebut akan diperbesar. Focal Length juga menginformasikan angle of view yang kalian dapat.

Jarak Fokus

Ini merupakan pengukuran antara bagian akhir lensa dengan titik terdekat kemampuan fokus. Hal ini berguna sekali ketika dalam pemotretan makro atau close-up photography, mengingat jenis fotografi ini membutuhkan jarak yang sangat dekat dengan obyek foto.

Image Stabilization

Kebanyakan lensa DSLR sekarang ini sudah dilengkapi dengan fitur image stabilization (pada canon dikenal dengan IS, dan pada lensa Nikon dikenal dengan VR). Fitur ini berguna untuk meminimalkan getaran atau guncangan kamera (Camera Shake).
Camera Shake adalah gerakan yang terjadi pada saat shutter terbuka. Kejadian ini memiliki dampak lebih besar terhadap hasil foto ketika kita menggunakan slow speed, tidak menggunakan tripod dan waktu menggunakan lensa dengan focal length yang lebih panjang.
Setiap lensa dan kemera memiliki tipe IS yang berbeda, tetapi kebanyakan lensa DSLR yang memiliki fitur ini berisi sensor gyro yang mampu mengoreksi setiap getaran kamera. Kami juga tidak begitu memahami mekanisme IS ini tetapi yang pasti semua lensa Canon atau Nikon yang memiliki fitur ini memungkinkan kita untuk memotret dengan hanya memegang kamera (tanpa tripod) dan dengan shutter speed lebih lambat.
Memang IS membantu fotografer dalam mengurangi getaran kamera pada saat tingkat cahaya rendah, tetapi tetap saja tidak membekukan (freeze) obyek yang bergerak. Pada dasarnya IS memudahkan kita memotret pada shutter speed yang lebih rendah dimana aperture kamera terbuka sedikit lebih lama, tetapi jika subyek foto kalian bergerak berarti akan mengakibatkan lebih banyak blur.
Fitur IS berarti biaya tambahan pada sebuah lensa, jadi Sobat butuh pertimbangan apakah aktifitas pemotretan dengan lensa tersebut membutuhkan fitur ini atau tidak. contoh: apakah Sobat sering memotret pada kondisi cahaya rendah dnegan menggunakan focal length yang panjang tanpa tripod?

Tips Foto Light Trail

Peralatan apa aja sih yang digunakan untuk memotret Light Trail?

Tidak ada tipe kamera atau perangkat fotografi tertentu untuk mengambil foto Light Trail, tetapi setidaknya Sobat harus memiliki sebuah kamera yang memungkinkan kalian untukmengatur Exposure. Sobat harus bisa memilih Shutter Speed lambat. Hal ini berarti Sobat membutuhkan kamera yang memiliki kemampuan untuk memotret menggunakan mode Manual atau mode Shutter Priority.

Memotret menggunakan tangan kosong pasti akan terasa sedikit susah untuk menghindari camera shake, untuk itu Sobat pasti membutuhkan sebuah Tripod untuk memotretmenggunakan Shutter Speed lambat.
Perangkat fotografi lain yang bisa menjadi pilihan untuk digunakan adalah Lens Hood. Lens Hood berguna untuk menghindari flare yang diakibatkan oleh cahaya disekitar kita. Kabel Remote Shutter Release atau Wireless Remote Controll juga akan sangat membantu menghindari kamera shake. Setelah semua sudah siap tinggal melengkapi diri kita dengan kesabaran serta baju hangat.

Prinsip memotret Light Trail:

Prinsip dasar dalam memotret Light Trail sederhana, Sobat tinggal menemukan tempat atau lokasi dimana kalian bisa melihat lampu-lampu kendaraan berlalu-lalang, pasang kamera serta tripod, atur kamera ke pengaturan shutter speed lambat, dan ambil gambar kendaraan atau mobil untuk membuat Light Trail yang indah. Aplikasi memang tidak semudah apa yang kami tulis, tapi yang pasti adalah Penggunaan Shutter Speed lambat memungkinkan kita untuk merekam jejak cahaya yang ditinggalkan oleh kendaraan.

Thunder God
Tulisan ini hanya tips bagaimana menghasilkan foto Light Trails, pada prakteknya Sobat butuh untuk bereksperimen secara terus menerus. Kita memotret di era digital dimana kemudahan aktifitas fotografi telah memanjakan kita, banyak-banyak lah memotret light trail dan review hasil foto-foto tersebut baik menggunakan LCD di kamera atau pada PC Desktop.

Saat Pemotretan Light Trail:

Memotret Light Trail bukanlah satu hal yang sulit untuk dilakukan, Sobat cukup menemukan tempat atau jalan yang dilewati oleh kendaraan di senja atau malam hari. Pertibangkan timing serta framing foto kalian untuk menghasilkan foto yang bisa menarik perhatian. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kalian lakukan:

  • Timing - Kebanyakan foto-foto Light Trail diambil di malam hari, tetapi waktu lain yang menarik untuk memotret Light Trail adalah pada saat senja, tepat sebelum dan sesudah matahari terbenam. Senja hari tidak hanya menawarkan  cahaya kendaraan, tetapi juga ambient light atau cahaya hangat berwarna oranye kemerahan yang bisa mendramatisir hasil foto-foto Light Trail kalian.
  • Prespektif Memotretlah dengan menggunakan prespektif yang sedikit kreatif, memetret dengan angle rendah atau mencari tempat tinggi dan memotret ke arah bawah bisa menciptakan angle yang tidak biasa.
  • Lokasi - memang lokasi yang tepat adalah di dekat atau pinggir jalan, tapi cobalah melihat lingkungan sekitar cari apa yang bisa menarik perhatian, seperti gedung yang masih masih nyala lampunya sementara yang lain sudah gelap, atau bundaran dimana light trail bisa membentuk lingkaran dan lain-lain.
  • Framing Komposisi dasar fotografi bisa diaplikasikan dalam memotret light trails, foto atau gambar memerlukan sebuah Point of Interest. Rule of Thirds bisa efektif diaplikasikan, arahkan mata di dalam gambar menggunakan garis.

Eksposure Triangle

Aperture - Depth of Field, Ketika pertama kali mengetahuhi bahwa ada lensa yang lebih "cepat" dari lensa yang lain (aperture bisa lebih lebar), dan itu yang diperlukan untuk membuat foto bagus pada kondisi low-light atau rendah cahaya, pasti sebagian besar kita akan bergumam.. "Bagus, masalah bisa terselesaikan", tetapi sebenarnya percaya atau tidak masalah belum terselesaikan. Kenapa? Karena ketika menggunakan aperture f/1.4 padalensa 50mm bisa menyebabkan Depth of Field (DOF) yang sangat sempit, jadi jika memotret acara pernikahan dan kalian berencana untuk memaksimalkan lebar aperture, maka lebih baik kalian memiliki rencana lain, karena kemungkinan salah fokus akan terjadi. Kesimpulannya adalah: Ketika merubah aperture, jangan hanya terpaku pada "Cahaya lebih", tetapi juga pikirkan Depth of Field.

Shutter Speed - ketajaman, Ketika pertama kali belajar tentang exposure triangle, setiap pengaturan kamera biasanya dijelaskan bagaimana hubungannya dengan cahaya. Pengaturan aperture berarti membiarkan lebih banyak/sedikit cahaya yang masuk, sedangkanshutter speed merupakan rentang waktu lama tidaknya cahaya masuk, dan ISO adalah tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Seperti contoh diatas, selalu ada faktor lain ketika mempertimbangkan memilih sebuah pengaturan. Shutter Speed, bukan hanya lama shutter terbuka yang harus dipikirkan, menggunakan shutter speed terlalu lambat pada kondisi rendah cahaya bisa menyebabkan camera shake atau motion blur pada obyek gerak. Kondisi seperti ini akan menyebabkan hasil foto yang terkesan kabur dan jauh dari kata tajam. Investasilah pada lensa dengan fitur IS (Image Stabilising) jika memungkinkan. Fitur ini akan membantu kalian menciptakan foto yang lebih tajam ketika memotret pada kondisi rendah cahaya atau focal length yang panjang (zoom). Kesimpulannya adalah shutter speed = ketajaman.

ISO - Grain, ISO bisa menjadi teman terbaik tetapi bisa juga menjadi musuh bebuyutan, biasanya ISO merupakan pengaturan yang dilakukan terakhir kali sebelum aperture dan shutter speed. Beberapa diantara fotografer seringkali membenci Noise yang dihasilkan oleh ISO. Tiap kamera memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengatasi timbulnya noise. ISO bukanlah sekedar angka penyeimbang dari exposure triangle. Sobat tidak selalu bisa dengan mudahnya menggunakan ISO 3000 dan melupakan dampaknya. Sobat harus tahu bahwa semakin tinggi angka ISO berarti mengakibatkan lebih banyak noise/grain. Beberapa fotografer sengaja menambahkan ISO pada hasil foto mereka, terutama pada foto-foto hitam putih, jadi pada dasarnya ISO tinggi = Grain.

Aperture Priority

Istilah-istilah ini ibaratnya ditemukan oleh para politikus: "Ketika mereka mengatakan satu hal dan itu berarti kebalikannya atau hal yang lain" ketika satu istilah diucapkan seperti "Menurunkan Stop" atau "Stopping down" maka lensa akan meningkatkan Depth of Field, yang berarti meninggikan pengaturan aperture! Jadi berkebalikan, Ketika Sobat menurunkan stop (stop down) lensa dari pengaturan f/5.6 ke f/16, diafragma aperture akan lebih menutup, dan membiarkan lebih sedikit cahaya yang masuk ke dalam sensor tetapi akan meningkatkan fokus dari foreground ke background. "Open up" atau "membuka" dalam pengaturan aperture berarti menggunakan f/stop lebih rendah dan "closing down" atau "menutup" berarti menggunakan pengaturan f/stop yang lebih tinggi.

Penjelasan lebih dalam tentang istilah "Opening up" atau "memperlebar bukaan" lensa sebenarnya adalah menggunakan pengaturan aperture lebih rendah: F/5.6 atau F/4 agar ada lebih banyak cahaya yang masuk ke dalam sensor. Porsi titik fokus dalam foto akan terfokus dengan benar sementara area lain akan terasa blur atau tidak fokus.

Selalu ingat bahwa "naik" berarti setting rendah dan kurang fokus dari foreground ke background. "Turun" berarti setting tinggi dan lebih fokus dari foreground ke background. Seperti perkataan politikus bukan?

Kami sudah mendaftar keuntungan dan kerugian dari setiap mode pemotretan dibawah ini. Semakin banyak Sobat memotret maka tentunya akan meningkatkan kemampuan kalian menggunakan mode pemotretan serta mengambil manfaatnya, dan tentu akan sangat membantu dalam memvisualisasikan imajinasi kalian lewat sebuah foto.
  • Aperture Priority. Rubah setting aperture untuk menaikkan atau mengurangi Depth of Field foto. Angka yang lebih kecil seperti f/2 berarti memperlebar diafragma aperture dan mebiarkan lebih banyak cahaya ke dalam sensor, dan ini akan mengurangi Depth of Field. Angka aperture yang lebih besar berarti mengurangi ukuran diafragma dan sedikit cahaya yang bisa masuk. Kamera digital akan secara otomatis mengatur shutter speed. Jika Sobat menginginkan foto dengan background blur, maka kurangi aperture ke f/2 atau f/4. Untuk menaikkan Depth of Field serta meningkatkan fokus dari foreground ke background maka naikkan pengaturan aperture ke f/8 atau lebih tinggi
  • Shutter Priority. Rubah shutter speed dan kamera secara otomatis akan mengatur aperture. Jika Sobat ingin membekukan atau "freeze" obyek gerak maka gunakan shutter speed tinggi atau lebih cepat, seperti 1/500 detik. Untuk mendapatkan efek blur dari obyek gerak seperti air terjun, maka gunakan shutter speed lambat seperti 1/10 detik.
  • Manual. Sobat sebagai fotografer mengatur secara manual baik shutter speed maupun aperture. Gunakan mode ini ketika melakukan uji coba atau eksperimen pada spesial efek atau memotret pada kondisi tricky seperti long exposure di malam hari.
  • Automatic (Otomatis). Kamera digital akan memperhitungkan kombinasi optimal dari aperture, shutter speed, serta ISO berdasarkan nilai exposure yang ditentukan oleh sistem metering kamera. Mode otomatis mungkin baik untuk digunakan pada banyak kondisi dan bahkan portrait.

Mengenal Shutter Speed dalam Fotografi

Shutter speed bagi kebanyakan orang Indonesia diartikan secara bahasa sebagai kecepatan rana, yaitu berapa lamanya shutter terbuka. Pada era fotografi film shutter speed diartikan sebagai lamanya film di-expose ke obyek yang difoto, deskripsi ini sama dengan era fotografi digital dimana shutter speed merupakan lamanya sensor "melihat" subyek yang akan diambil gambarnya. Dibawah ini Kami mencoba untuk mengulas "Shutter Speed" ke dalam beberapa bagian. Semoga mudah dimengerti bagi Sobat-sobat yang baru mengenal dunia fotografi:
  • Shutter speed diukur dalam detik - atau pada kebanyakan kasus digunakan dalam sepersekian detik. Semakin besar penyebut atau pembagi, maka akan bertambah kecepatannya (contoh : 1/1000 jauh lebih cepat dibandingkan 1/30).
  • Jika Anda menggunakan Slow Shutter Speed (lebih rendah dari 1/60) anda akan membutuhkan sebuah tripod atau fitur-fitur seperti image-stabilization (kamera & lensa baru biasanya memiliki fitur ini)
  • Pengaturan Shutter speed yang tersedia di kamera Anda biasanya berupa kelipatan. Coba periksa pengaturan shutter speed pada kamera Anda, Anda mungkin akan melihat beberapa bilangan seperti - 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/15, 1/8, dan seterusnya. Kelipatan pada pengaturan Shutter mudah diingat, sama seperti prinsip aperture yang juga melipat gandakan (2x) jumlah cahaya yang masuk.
  • Beberapa kamera digital terdapat fitur yang memudahkan Anda untuk memotret dengan shutter speed yang sangat lambat. Tidak ada pembagian detik tetapi diukur dengan satuan detik yang bulat (contoh: 1 detik, 10 detik, 30 detik, dan lain-lain). Pengaturan ini digunakan pada kondisi ruang atau situasi yang sangat gelap, atau ketika Anda memang sengaja membuat efek ketika merekam pergerakan dari sebuah obyek. Beberapa kamera juga menyediakan fitur opsi memotret dengan 'B' (atau yang sering disebut dengan Bulb). Mode bulb memungkinkan seorang fotografer untuk tetap membuka shutter selama yang dia mau.
  • Ketika mempertimbangkan setting shutter yang akan dipergunakan untuk memotret, alangkah baiknya Anda menanyakan kepada diri Anda sendiri apakah obyek potret tersebut bergerak? dan bagaimanakah Anda ingin merekam pergerakan tersebut. Jika terdapat pergerakan di pada obyek foto, Anda harus memutuskan apakah akan membekukan pergerakan atau memberi efek pergerakan dengan blur.
  • Untuk membekukan atau 'freeze' pergerakan obyek pada sebuah foto, Anda sebaiknya memilih pengaturan shutter speed yang cepat dan untuk merekam pergerakan yang berbayang Anda baiknya memilih pengaturan dengan speed rendah. Kecepatan yang Anda pilih mungkin akan beragam tergantung dari kecepatan subyek ketika pemotretan serta bagaimana bayangan blur yang Anda inginkan.
  • Motion dari sebuah pergerakan tidak selalu jelek - Diantara fotografer pemula mungkin ada yang selalu memotret dengan menggunakan shutter speed dengan kecepatan tinggi, mereka terkadang tidak mengerti mengapa orang menyukai foto yang berbayang atau blur. Ada kalanya motion pergerakan itu akan tampak indah dan bagus, sebagai contoh ketika Anda memotret sebuah air terjun dan ingin menonjolkan seberapa cepat air itu mengalir, atau ketika Anda memotret sebuah balap mobil dan ingin memberikan nunsa kecepatan laju kendaraan, atau bisa juga ketika memotret bintang dan ingin memotret bagaimana bintang-bintang itu bergerak. Pada contoh-contoh penggunaan shutter speed diatas, Anda pasti akan membutuhkan sebuah tripod jika tidak maka kemungkinan besar hasil foto Anda akan rusak karena pergerakan kamera.
  • Focal Lenght & Shutter Speed - hal lain yang patut dipertimbangkan ketika mengambil keputusan tentang pemilihan pengaturan shutter speed adalah penggunaan focal length lensa. Focal length yang lebih panjang akan menyebabkan shake atau goncangan pada kamera anda, jadi untuk mengatasi hal itu pilihlah shutter speed lebih cepat (kecuali lensa Anda memiliki fitur image-stabilization). Prinsip dasar penggunaan focal-length pada lensa yang tidak memiliki fitur image-stabilization adalah memilih kecepatan rana (shutter speed) dengan pembagi yang lebih besar dari panjang focal length lensa, sebagai contoh Anda memiliki lensa 50mm dan menggunakan shutter speed 1/60 masih bisa, tetapi jika Anda menggunakan lensa 200mm setidaknya Anda harus memotret dengan menggunakan kecepatan shutter 1/250

Pindah ke Gedung Bookstore KOPMA UII Tingkatkan Pelayanan

Image
Keberadaan Koperasi Mahasiswa (KOPMA) UII dalam kompleks kampus terpadu UII tentunya sudah tidak asing lagi bagi sivitas akademika kampus perjuangan ini. Lembaga kemahasiswaan yang berdiri sejak tahun 1982 ini telah sekian lama melayani kebutuhan para sivitas akademika kampus dengan menyediakan berbagai layanan dan komoditas yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa. Tidak hanya itu, KOPMA UII juga menjadi wadah yang tepat bagi para mahasiswa yang ingin mengasah softskillnya dalam berorganisasi dan menajamkan pengetahuan mengelola bisnis. KOPMA UII berupaya mewujudkan kesejahteraan bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar UII dalam bidang ekonomi. Relevansi keberadaan Kopma UII dinilai semakin penting dengan digalakkannya gerakan pendidikan kewirausahaan bagi para mahasiswa.
Seiring dengan selesainya pembangunan Gedung Bookstore yang berdekatan dengan pintu masuk kampus terpadu UII, maka Kopma UII pun turut memindahkan aktivitasnya di gedung baru tersebut. Ihwal pemindahan ini sejalan dengan niatan untuk menekankan pentingnya keberadaan KOPMA UII bagi sivitas akademika. Di samping itu, kepindahan tersebut diharapkan juga mampu meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan yang dapat diberikan oleh Kopma UII bagi sivitas akademika dan masyarakat umum yang berada di sekitar kampus terpadu UII.
Sebagaimana disampaikan oleh Ketua KOPMA UII Faisal Ridho Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Industri UII “Berhubung tempat baru, kami juga ingin menunjukkan semangat baru, dengan pindah lokasi, maka kami ingin meningkatkan pelayanan dan juga ingin lebih agresif melakukan promosi.” Ujar Faisal saat mengunjungi Kantor Humas UII, Senin (16/3).
“Kami terus berbenah dan akan melengkapi produk-produk yang kami jual agar sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, seperti Alat Tulis, Kaos UII, Jas Laboratorium, Jas Almamater, dan berbagai macam Marchendise UII seperti Mug, Gantungan Kunci, Piala dan Plakat. Termasuk Ticketing nantinya juga kami usahakan bisa kami sediakan di KOPMA UII, tapi untuk penjualan ticket masih dalam pembicaraan dengan pihak Rektorat.” Paparnya.

Dedikasi dan Komitmen Meneliti Buahkan Penghargaan Internasional

Image
Salah satu tugas penting seorang dosen di samping mengajar tentunya adalah menghasilkan karya penelitian. Hal ini merupakan wujud dedikasi dan komitmen seorang akademisi terhadap bidang ilmu yang ditekuninya. Dengan menekuni aktifitas meneliti dan mempublikasikannya dalam jurnal ilmiah, seorang dosen tidak hanya telah berkontribusi dalam pengembangan ilmu di bidangnya namun juga turut meletakkan pondasi bagi para peneliti lain yang konsen terhadap bidang tersebut. Sebagaimana ditunjukkan oleh salah seorang dosen asal Prodi Ilmu Kimia, FMIPA UII, Dr. Is Fatimah, S.Si., M.Si.
Ketekunan dan dedikasi yang ditunjukkannya selama bertahun-tahun dalam meneliti pemanfaatan lempung dalam bidang green chemistry telah menghantarkannya memperoleh berbagai macam hibah dan penghargaan bergengsi bagi para peneliti di tingkat internasional. Beberapa waktu lalu, ia menerima penghargaan sebagai peneliti terbaik dalam ajang 21st Science and Technology Award yang diselenggarakan oleh Indonesia Toray Science Foundation (ITSF). ITSF sendiri merupakan lembaga pemerhati sains yang dibentuk oleh sebuah perusahaan kimia asal Jepang. Penghargaan ini dinilai sebagai salah satu penghargaan prestis bagi para peneliti di bidang kimia.
Disampaikan oleh Dr. Is Fatimah bahwa pemberian penghargaan didasarkan pada rekam jejak yang dimiliki oleh peneliti dalam hal publikasi ilmiah yang terindeks dalam jurnal ilmiah internasional. “Di samping melihat H-index scopus dari para peserta, ITSF juga melihat konsistensi peneliti dalam mendalami riset yang menjadi core competency keilmuannya. Alhamdulillah konsistensi penelitian saya di bidang green chemistry, khususnya lempung menjadi parameter yang diapresiasi”, ujarnya.
Ia menambahkan, untuk dapat meraih penghargaan ia harus melewati tahap seleksi yang sangat ketat dari dewan penilai. “Dalam kategori award peneliti, saya harus bersaing dengan 16 peneliti dari perguruan tinggi negeri dan lembaga penelitian nasional. Semuanya sangat berkompeten dan riset-risetnya juga berkualitas sehingga memang tidak mudah”, katanya.
Di tahap akhir terpilih tiga peneliti terbaik untuk mengikuti seleksi wawancara yang diadakan di kantor ITSF pada 4 November 2014. “Proses wawancara adalah tahap akhir dari proses seleksi untuk meyakinkan bahwa peserta benar-benar sudah berkontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan yang memberikan terobosan khusus di bidangnya”, ujar wanita yang juga mendapat hibah penelitian (Research Grant in Basic Sciences) dari the world academy of sciences (TWAS).

Perluas Kemungkinan Kerjasama Bidang Lain, University of Glouscestershire Kunjungi UII

Image
Kerjasama antara University of Glouscestershire (UOG), Cheltenham, Inggris dengan Universitas Islam Indonesia (UII) pada dasarnya sudah dimulai sejak Juni 2010 lalu, tepatnya ketika Rektor UII pada waktu itu berkunjung ke UOG dalam rangka penandatanganan nota kesepahaman terkait dengan program dual degree Prodi Akuntansi dan Manajemen International Program Fakultas Ekonomi (FE) UII.
Kemudian kerjasama tersebut dilanjutkan dengan kunjungan delegasi dari UOG ke UII pada November 2013, masih dengan pembahasan yang sama yaitu implementasi program dual degree untuk Prodi Akuntansi dan Manajemen. Nampaknya kerjasama tersebut kemudian membuahkan hasil karena UII selanjutnya mengirimkan 2 orang mahasiswa untuk mengikuti program tersebut.
Disampaikan oleh Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo M.Sc., bahwa kedua mahasiswa tersebut saat ini sudah selesai dan sudah sukses dengan karir mereka masing-masing, pihaknya juga menambahkan bahwa kerjasama antara UII dan UOG ini kedepan bisa diperluas, dan mencakup program studi lain di lingkungan UII.
Statemen diatas disampaikan oleh Harsoyo ketika menyambut kedatangan delegasi UOG yang diwakili oleh Senior Lecture in Hospitality Management Faculty of Applied Science, Nadine Sulkowski dan International Development Adviser, Dhoun Mahza Azahari pada hari ini (13/3) bertempat di Ruang Sidang VIP Rektorat UII Gedung GBPH Prabuningrat.
Penyambutan delegasi UOG juga diikuti oleh Wakil Rektor I Dr. -Ing. Ilya Fadjar Maharika MA., IAI., Direktur International Program UII Ir. Wiryono Rahardjo, M.Arch., Ph.D.,  dekan Fakutas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) UII Dr. rer. Nat. Arief Fahmie, S.Psi., MA., Direktur Pemasaran dan Kerjasama Alumni Hangga Fathana, SIP., B.Int.St., MA., dan beberapa staf lain dari International Program, FPSB UII serta DPKA UII.
Dalam pertemuan tersebut dibahas terkait dengan perpanjangan nota kesepahaman yang sudah berakhir tahun lalu, serta penjajakan kemungkinan kerjasama lain yang bisa dilakukan. Kerjasama dalam bentuk seperti pertukaran staff dan mahasiswa, seminar internasional, joint research, joint studio, bahkan sampai pada doble degree untuk program Master dan PhD.
Nadine Sulkowski menyampaikan bahwa bukan hanya terkait dengan pembelajaran mahasiswa saja yang bisa dilakukan kerjasama, namun ada aspek lain yang sebenarnya juga sangat penting, yaitu penddidikan karakter untuk mahasiswa.

Tim Analis UII Juara Nasional Data Analysis Competition (DAC) 2015

Image
Dua Tahun berturut-turut Tim Analis dari Program Studi Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Indonesia berhasil meraih prestasi di ajang Data Analysis Competition(DAC). Bahkan tahun ini prestasi yang ditorehkan lebih membanggakan dibandingkan tahun sebelumnya, karena pada tahun 2014 Tim dari UII hanya mampu menduduki posisi ke-2, sedangkan tahun ini Tim UII berhasil menjadi yang terbaik di antara 318 peserta yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta Se-Indonesia.
Data Analysis Competition (DAC) merupakan salah satu kegiatan dari Pekan Raya Statistika 2015 yang diselenggarakan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 7-8 Februari 2015 yang bertujuan agar mahasiswa mampu menggali serta mengasah kemampuannya dalam bidang analisis data sehingga diharapkan dapat menerapkannya di kehidupan bermasyarakat. Data Analysis Competition (DAC) tahun ini bertema “The Role of Young Analist for Indonesia’s Economic Development”, Dengan mengangkat permasalahan ekonomi makro di Indonesia, Data Analysis Competition (DAC) 2015 diselenggarakan untuk mencari bibit analis muda, lewat kompetisi ini para peserta memberikan gambaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Indonesia menggunakan data statistik.
Dari sekitar 150 Tim yang mengikuti seleksi, 50 Tim dinyatakan lolos. Tim-tim tersebut berasal dari UII, UI, IPB, UB, UGM, ITS, Unair, STIS, UNDIP, BINUS, UNES, UP Ganesha, dan Universitas Tanjung Pura. Namun, di babak selanjutnya hanya 5 Tim yang berhak melanjutkan ke babak final yaitu 2 tim dari UII, 2 tim dari IPB, dan 1 tim dari Undip. Tim UII yang beranggotakan Bayu Rizqi Aprianto dan Aulia Cipta Purnayudha berhasil keluar sebagai Juara 1 yang kemudian berturut-turut diikuti Tim dari IPB menempati juara 2 dan 3, Undip berada di urutan ke-4 sedangkan 1 tim lain dari UII menempati posisi ke-5.
Bayu dan Aulia yang merupakan Mahasiswa Jurusan Statistika Angkatan 2011 mengaku bahwa keikutsertaan mereka dalam ajang tersebut hanya iseng, “Awalnya kami hanya iseng-iseng ingin liburan aja ke Surabaya, kemudian kami coba ikut daftar ternyata Alhamdulillah, jadi ya iseng-iseng berhadiah.” Ujar Bayu dan Aulia saat berkunjung ke Kantor Humas UII. Mereka juga menyampaikan bahwa sebelum mendaftarkan diri untuk mengikuti perlombaan DAC 2015 tidak ada persiapan khusus, bahkan perlombaan tersebut juga merupakan yang pertama kali mereka ikuti.
Menurut mereka, data-data yang ditunjukkan oleh juri merupakan data yang menggambarkan sebuah ketimpangan ekonomi yang sangat mencolok antara di Pusat dan Daerah. Oleh karena itu, saat mempresentasikan hasil analisis mereka menekankan bahwa faktor pendidikan, infrastruktur, dan pemerataan ekonomi harus didahulukan agar ketimpangan ekonomi tersebut dapat diperbaiki. Di samping itu, ketegasan pemerintah dalam memberantas korupsi juga sangat urgent karena korupsi telah banyak merugikan negara.

Program Pengabdian Masyarakat Sejajar dengan Pendidikan dan Penelitian

Image
Masih banyaknya permasalahan di masyarakat terutama masyarakat pedesaan menuntut kalangan akademisi termasuk civitas akademika UII untuk meningkatkan peran dalam bentuk pengabdian masyarakat. Baik Dosen maupun mahasiswa UII terus didorong untuk memanfaatkan program KKN secara maksimal sebagai sarana strategis UII dalam mewujudkan misi besar UII yaitu menjadi kampus yang rahmatan lil’alamin, salah satunya adalah dengan melakukan penelitian dalam program Hibah KKN PPM yang didanai oleh DIKTI.
Dijelaskan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII Prof. Ahmad Fauzy, M.Si.,Ph.D., Keikutsertaan dosen-dosen UII dalam Program Hibah KKN PPM DIKTI tersebut saat ini masih minim walupun setiap tahun menurunkan sekitar 5000 mahasiswa yang tersebar di 300 – 350 titik di desa-desa baik di DIY maupun Jawa Tengah. “Kita berharap dengan jumlah mahasiswa yang banyak, UII tidak kalah dengan kampus-kampus yang jumlah mahasiswanya lebih sedikit.” Papar Prof. Fauzy saat memberikan pengantar dalam Workshop Meraih Hibah KKN PPM DIKTI yang diselenggarakan DPPM UII di Gedung Prof. Dr. Abdul Kahar Mudzakkir, Selasa (17/3).
Prof. Fauzy menyampaikan bahwa saat ini DPPM UII terus berupaya meningkatkan kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat agar sejajar dengan kegiatan-kegiatan pendidikan dan penelitian. “Tim di DIKTI juga mendorong agar Pengabdian Masyarakat dapat disejajarkan dengan Pendidikan dan Penelitian. Oleh karena itu, dengan Workshop ini kita berharap program KKN UII ke depannya mudah-mudahan lebih bagus dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi UII dan masyarakat.” Ujar Prof, Fauzy.
Dr. Gatot Murdjito, sebagai pemateri tunggal dalam workshop tersebut menyampaikan bahwa konsep UII dengan memasukkan Dakwah Islamiyah untuk melengkapi Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga menjadi Catur Dharma adalah konsep yang baik apalagi jika dapat diimplementasikan dengan baik di masyarakat. “Saya sangat senang UII menjadikan Dakwah Islamiyah sebagai Catur Dharma, apalagi kalau bisa dilaksanakan dengan baik. Dalam pengabdian masyarakat, yang pertama harus dimiliki adalah dengan menyukai aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan pengabdian masyarakat itu sendiri. Dengan begitu akan banyak yang bisa kita lakukan di masyarakat.” Papar Dr. Gatot.
Dijelaskan Dr. Gatot, benteng terakhir bangsa Indonesia adalah kampus, jika kampus melaksanakan perannya dengan baik dan orang-orang akademisi dapat membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. “Benteng terakhir bangsa adalah Kampus, kalau kampusnya saja memble ya sudah. Makanya saya terus mendorong supaya pengabdian masyarakat sejajar dengan penelitian” Tegasnya.
Namun demikian, saat ini pengabdian masyarakat masih belum sepenuhnya mendapat perhatian yang sejajar dengan penelitian. Sebagai contoh dalam kurikulum pendidikan ada mata kuliah khusus tentang metodologi penelitian akan tetapi tidak ada yang membahas tentang metodologi pengabdian. Sehingga ia berharap perguruan tinggi dapat mulai memberikan perhatian yang besar pada pengabdian masyarakat salah satunya dengan mengadakan perkuliahan terkait metodologi pengabdian.
Yogyakarta sebagai kota pendidikan dengan 106 PTS dan 5 PTN di dalamnya diharapkan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia, jumlah perguruan tinggi yang banyak tersebut diharapkan dapat memberikan peran perbaikan di masyarakat. Ia juga berharap Yogyakarta dapat menjadi tempat memulai perbaikan negeri ini dengan mengaktifkan program-program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh kampus-kampus yang ada di Yogyakarta, salah satunya adalah dengan program KKN yang memang mengangkat tema sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat sehingga benar-benar dapat memberikan solusi bukan justru menambah permasalahan masyarakat.

Jumat, 16 Januari 2015

Teknik Foto Panning

  1. Jangan gunakan tripod, untuk mengikuti arah gerakan obyek kamera harus bisa bergerak luwes
  2. Set kamera pada mode Shutter Priority (S atau Tv)
  3. Shutter speed yang digunakan untuk panning adalah antara 1/30 sampai dengan 1/8, jadi set kamera diantara angka tersebut
  4. Cari obyek bergerak yang akan dipanning (tips: pilihlah background yang berwarna-warni untuk panning sehingga hasil blur dari background makin menarik)
  5. Arahkan kamera mengikuti obyek yang bergerak dan pencet separuh tombol release untuk mengambil fokus.
  6. Usahakan tangan bergerak selembut mungkin, gerakan kejut yang mendadak bisa mengakibatkan hasil foto yang tidak menarik
  7. Saat tangan kita sudah ‘seirama’ dengan gerakan obyek, pencet tombol release untuk mengambil eksposur
  8. Makin banyak berlatih, tangan dan mata kita akan semakin terasah!